oleh

Hati-hati! Ada Tukang Palak di Lubuk Minturun

PADANG, (BM)– Sejumlah pengunjung objek pemandian alam di kawasan aliran sungai Lubuk Minturun, Kec. Koto Tangah Kota Padang, tapakiak ulah aksi tukang palak di lokasi itu. Selain “biaya masuk” yang dipatok dengan tarif selangit, praktik pungli berupa parkir liar juga meresahkan pengunjung.

“Ini benar-benar aksi pemalakan yang keterlaluan. Tanpa karcis, saya dimintai uang Rp 20.000,-. Katanya untuk biaya masuk. Saya heran, mandi-mandi ke batang air saja harus bayar segitu,” kata Ardi, salah seorang pengunjung datang bersama keluarganya, Minggu (21/7).

Meski mengaku kaget dan keberatan untuk membayar sesuai permintaan oknum pemuda yang melakukan pungutan di jalan masuk menuju lokasi pemandian aliran sungai Lubuk Minturun tersebut, namun Ardi memilih untuk tidak berdebat dan mencari keributan.

Baca Juga  Pungli di Lubuk Minturun, Wakil Ketua HPI Kota Padang: Pemko Harus Bergerak Cepat

“Dia (oknum pemuda yang memungut biaya masuk), kelihatan setengah mabuk. Gayanya pahit, wajahnya benar-banar tidak sedap dipandang. Tak ada senyum sebagai simbol pelayanan. Daripada ribut-ribut, karena di warung itu juga banyak rekan-rekannya, ya saya berikan saja uang itu, walau sebenarnya tidak ikhlas,” tandas Ardi.

Tak sampai disitu saja, pungli berupa parkir liar juga kembali menimpanya begitu meninggalkan lokasi. “Awalnya saya berikan Rp 3.000,-, perempuan tua itu ngotot minta tambah Rp 5.000,-. Tak saya berikan, saya langsung tancap gas saja meninggalkan lokasi. Benar-benar pengalaman pahit di Lubuk Minturun. Semoga Polisi segera mengamankan para pemalak itu,” kesal Ardi.

Berbagai modus pungli di lokasi pemandian alam Lubuk Minturun, diakui sangat meresahkan pengunjung. Pemerintah daerah dan pihak kepolisian, diminta untuk segera bertindak.

Sejumlah warga yang berdagang di bagian dalam sepanjang pinggiran aliran sungai di sekitar lokasi pemandian itu, kepada media ini juga mengaku kaget saat disebutkan ada sekelompok pemuda yang mematok biaya masuk sebesar Rp 20.000,-. Mereka menjalankan aksinya di sebuah warung, sekitar 150 meter dari simpang jalan utama Lubuk Minturun.

Baca Juga  Pungli di Lubuk Minturun, Wakil Ketua HPI Kota Padang: Pemko Harus Bergerak Cepat

Bara dimintaknyo, Diak? Duo puluah ribu? Yo keterlaluan bana paja-paja tu mah. Baa kok indak dilawan sajo,” ujar seorang wanita paruh baya, yang enggan ditulis namanya.

Wanita yang berdagang gorengan itu, juga menceritakan, dulunya oleh pihak RT setempat, sudah pernah akan dipasang plang larangan pungli di pintu masuk dan di seluruh lokasi pemandian. Namun aksi itu dilarang oleh sekelompok pemuda yang mangkal di lokasi warung seperti yang disebutkan di atas.

“Pak RT sudah lepas tangan dan tidak akan bertanggungjawab terhadap segala aksi pungli. Kalau ada yang melaporkan dan selanjutnya aparat keamanan atau pihak-pihak terkait mengambil tindakan tegas, ya itu menjadi tanggungjawab mereka sendiri,” ujarnya.

Baca Juga  Pungli di Lubuk Minturun, Wakil Ketua HPI Kota Padang: Pemko Harus Bergerak Cepat

Pemerhati pariwisata Kota Padang, Tandri Eka Putra mengatakan, berbagai bentuk dan modus pungli, pemalakan dan bahkan mengarah kepada tindakan premanisme, memang masih menjadi persoalan serius di tengah-tengah tumbuh kembangnya dunia kepariwisataan Sumbar, khususnya Kota Padang.

“Ini terjadi karena objek wisata tidak dikelola dengan baik, tidak ada pengawasan. Apapun itu, yang jelas aksi-aksi seperti yang terjadi di Lubuk Minturun, harus segera diberantas. Pemko Padang harus segera bertindak, libatkan pihak kepolisian untuk menindak tegas para tukang palak yang meresahkan itu,” pungkas Tandri. (**)

Komentar

Post Terkait