oleh

Mentawai; Antara Peluang, Risiko dan Keuntungan

Oleh: DR. Juniator Tulius

PADA kesempatan ini, kembali saya melontarkan beberapa isu sekadar menggali pemikiran bagaimana baiknya kita melihat peluang, risiko dan keuntungan buat masyarakat Mentawai dengan pertimbangan berbagai aspek untung dan ruginya.

Pembangunan di Mentawai yang menitikberatkan pada sektor infrastruktur jalan dan bangunan layanan pemerintah, pada satu sisi memang akan merubah wujud keterlihatan dari sebuah perubahan fisik di Mentawai. Artinya, sekitar 10 tahun lalu jalan masih setapak sekarang sudah ada badan jalan yang becek dan berlumpur karena belum dicor.

Ada beberapa puluh kilometer ruas jalan sudah dicor beton, tetapi masih banyak yang belum karena keterbatasan dana atau kegagalan proyek entah disebabkan oleh rekanan yang gagal membangun jalan dan jembatan atau krisis dana akhibat defisit dan penyelewengan anggaran.

Alokasi dana dalam perencanaan yang berlebihan menyebabkan munculnya kajian-kajian yang tidak perlu dan eksekusinya di lapangan yang tidak optimal menyebabkan banyak anggaran yang mubazir. Proyek-proyek air bersih misalnya. Apakah dananya dari pusat atau dari APBD, yang jelas uang itu untuk Mentawai yang dipakai tanpa manfaat yang jelas karena masyarakat Mentawai tidak menikmati hasilnya.

Pembangunan fisik dalam bentuk penyediaan pra sarana dan sarana untuk masyarakat juga belum mampu mendongkrak perekonomi masyarakat. Masyarakat bekerja secara swadaya menghasilkan pendapatan mereka dengan cara bertani secara tradisional.

Dinas pertanian hanya mampu memberikan penyuluhan tanpa berani memperkenalkan teknologi pertanian. Lahan di Mentawai sangat luas yang ditumbuhi pepohonan. Sebahagian besar masuk kawasan yang memberi peluang kepada pengusaha pemilik modal untuk mengeksploitasi kayunya. Percontohan jenis tanaman tertentu di sebuah daerah belum menjadi prioritas untuk menggugah masyarakat muncul sebagai pelaku pertanian yang kelak menjadi pengusahan pertanian.

Perkebunan rakyat tidak digugah untuk muncul. Inisiatif dari luar diterima tetapi tidak menjadi kekuatan pendukung bagi masyarakat. Kecenderungannya para pengusahan datang mengelola hasil sumber daya alam di Mentawai tanpa melibatkan masyarakat secara significant.

Beberapa orang memang bekerja di perusahan sebagai tenaga buruh harian. Namun hasil yang didapat perusahan dari luar yang mengeksploitasi Mentawai umumnya menguntungkan mereka dan beberapa oknum pejabat dan menyisihkan masyarakat umum diluar lingkaran keuntungan.

Dinas lainnya juga mengalami hal yang sama. Hasil laut Mentawai yang kaya sangat sedikit dinikmati oleh masyarakat. Dengan perahu motor yang berdaya jangkau 2-5 mil laut tidak optimal mengelola hasil laut. Kapal Bagan milik orang Mentawai bisa dihitung dengan jari. Karena tidak adanya kapal-kapal nelayan dari Mentawai, banyak kapal-kapal dari luar Mentawai mengambil hasil di perairan Mentawai.

Lagi-lagi, keuntungan dari hasil laut bukan untuk masyarakat kita walaupun berabad-abad leluhur orang Mentawai menjaga dan memeliharanya. Setelah semua tampak lestari dan bersih, keuntungan dikeruk oleh pengusaha pemilik modal. Masyarakat di Mentawai hanya menikmati sisa-sisa yang diambil oleh pengusaha dari luar. Peraturan daerahpun tidak mewadahi upaya perlindungan usaha kecil masyarakat dari keterbatasan dalam persaingan dengan pengusaha dari luar.

Dalam industri, tidak adanya pabrik pengelolaan sumber daya alam, juga menunjukkan perencanaan dan kemampuan yang terbatas dimiliki pemerintah daerah dalam merangsang tumbuhnya perekonomian masyarakat. Sejak 1970-an hingga saat ini, Mentawai secara terus menerus menjadi pengada bahan baku rotan terbaik untuk industri rotan di Cirebon dan luar negeri.

Lantas apakah Mentawai tidak dapat memiliki industri rotan sendiri? Perusahaan daerah yang mengandalkan modal dari pinjaman APBD seharusnya menjadi salah satu motor penggerak ekonomi masyarakat dengan membeli rotan dan mengelolanya menjadi bahan jadi dan dijual ke pasar nasional maupun internasional. Kalau rotan sudah dibeli dengan harga yang bersaing, masyarakat akan memanfaatkan tegakan kayu di hutan menjadi lahan penanaman dan peremajaan rotan.

Apakah sulit mendapatkan pengetahuan pengolaan rotan dari bahan mentah menjadi bahan kayu? Yang sulit itu ada dipikiran manusia, kalau ada niat dan perencanaan bukan diarahkan untuk mengakomodir kepentingan pribadi dan kelompok tetapi lebih kepada kesejateraan masyarakat, saya kira ini menjadi salah satu program unggulan kabupaten yang kaya akan sumberdaya rotan.

Upaya pelestarian lingkungan sudah dilakukan oleh leluhur kita secara berabad-abad sehingga sampai saat ini tegakan kayu masih dapat kita lihat bahkan disekitar perkampungan. Tetapi siapa yang menikmati ini semua? Kompensasi pelestarian lingkungan tidak kita nikmati. Taman nasional yang ada di kabupaten secara finansial tidak menjadi keuntungan bagi masyarakat. Tanpa taman nasionalpun sebenarnya masyarakat Mentawai secara budaya sudah melestarikan alam di kepulauan ini.

Pariwisata yang diunggulkan dan diangung-agungkan di Mentawai, sebenarnya bukan sepenuhnya dinikmati masyarakat. Sekelompok kecil pengusaha muda Mentawai berjuang tertatih-tatih membangun usaha agar punya surfcamp atau bungalow atau penginapan, itupun sering terkendala izin. Yang paling besar menikmati keuntungan dari aktivitas pariwisata lagi-lagi adalah mereka pemilik modal. Resort-resort dikuasai oleh pengusaha asing dengan mengatasnamakan orang lokal. Masyarakat Mentawai menjadi pekerja dengan upah minimun.

Jadi kapan dikatakan perekonomian masyarakat Mentawai sudah lebih baik? Jawabannya sederhana: bila pengusaha pariwisata, yang punya penginapan dan usaha perhotelan serta restoran sudah mencapai minimal 40% dari total pengusaha dibidang itu.

Bagaimana pertanian? Kalau masing-masing keluarga memiliki lahan perkebunan jenis tanaman tertentu minimal 2-4 hektar. Dan hasil perkebunan itu menghasilkan pendapatan reguler tiap bulannya. Hasil laut? Kelompok nelayan yang memiliki bagan minimal 2 per kecamatan sehingga hasil tangkapan ikan itu, tidak saja untuk memasok kebutuhan lokal tetapi juga dapat dikeringkan dan dijual di luar Mentawai.

Apa yang dapat kita harapkan kalau ekonomi masyarakat menggeliat di berbagai bidang? Kalau masyarakat sudah punya pendapatan sebulan rata-rata > 5 juta, suatu saat wajah “ketertinggalan dan keterbelakangan” itu akan hilang dengan sendirinya. Rumah mereka akan lebih baik dan anak mereka akan kuliah di universitas terkemuka. Bahkan mereka akan menjadi pembayar pajak untuk pendapatan daerah. Beberapa kabupaten di Sumatera Barat, masyarakatnya dan kabupatennya terlihat lebih maju dan sejahtera karena ekonomi masyarakatnya entah dari usaha tani sawit atau perkebunan lain telah berhasil merubah wajah kemiskinan daerah mereka.

Tidak bermaksud mendorong masuknya investasi besar seperti perusahaan sawit atau penebangan kayu kalau semua itu masih dikelola oleh perusahaan. Perusahaan kayu yang masuk ke Mentawai sejak 1970-an hingga sekarang hanya mengambil kayu dengan sangat sedikit kontribusinya bagi masyarakat.

Perusahaan pariwisata juga menunjukkan hal yang sama karena usaha besar pariwisata hanya dikuasai oleh pemilik modal dan umumnya adalah orang asing yang bersaing ketat dengan pengusahan lokal kecil dari modal ala kadarnya.

Singkatnya, Masyarakat di Mentawai harus menguasai pertanian, perikanan dan pariwisata serta dunia usaha lainnya untuk mendapat ekonomi yang lebih baik demi kesejahteraan Mentawai secara menyeluruh. Semoga! (**)

Penulis adalah jebolan Leiden University Belanda. Kini bekerja sebagai Research Fellow di Nanyang Technological University Singapore.

Komentar

Post Terkait